Agnes Jessica

Friday, June 30, 2006

MENGAJAR DAN MENULIS


Ia seorang di antara sedikit pengarang dari warga keturunan Cina di Indonesia yang tampil ke permukaan. Namanya, Agnes Jessica. Masih muda, kelahiran 4 April 1974. Sejak pertama kali menulis pada tahun 2000, ia telah menghasilkan 22 novel yang sudah diterbitkan oleh berbagai penerbit terkemuka di Indonesia, Gramedia Pustaka Utama, Grasindo, Elexmedia Komputindo dan Primanata Publishing. Sekarang, ia sedang merampungkan beberapa novel lagi yang sudah ditunggu pihak penerbit.
Novel terbarunya yang sudah dilempar ke pasar dan sangat mudah dijumpai di toko-toko buku sekarang, berjudul Rumah Beratap Bugenvil, adalah novel remaja yang diterbitkan Gramedia. Novel itu mengangkat isu perbedaan status sosial serta perilaku homoseksual yang di Indonesia masih tabu untuk dibicarakan. Novel itu dirilis awal Januari 2006 dan bulan Maret 2006 sudah mengalami tiga kali cetak ulang, masing-masing sebanyak 5000 eksemplar. Novel buah karyanya memang laris-manis, dan katanya ia punya banyak penggemar fanatik, yang pasti membeli buku karyanya yang diterbitkan. “Mungkin mereka sudah cocok dengan gaya bercerita saya,” tutur ibu muda beranak dua ini.
Kebanyakan novel-novelnya memang mengambil tema remaja, tapi bukan berarti tidak ada yang bertema dewasa, sebut saja antara lain Maharani (terbitan Grasindo) yang mengangkat tema Jugun ianfu, pelacur pada jaman pendudukan Jepang di Indonesia, atau Noda Tak Kasatmata (terbitan Primanata Publishing) yang mengangkat tema pemberantasan Partai Komunis pada tahun 1966.
Kini beberapa novelnya yang mendapat sambutan baik dari masyarakat telah dikontrak beberapa rumah produksi untuk diproduksi menjadi film atau sinetron. Sebut saja Sinemart yang saat ini tengah shooting novelnya yang berjudul Three Days Cinderella, Cipta Karya Cinema yang sudah mengontrak Tunangan? Hmm… untuk dijadikan film televisi, serta TV 7 yang telah mengambil Jejak Kupu-kupu untuk diproduksi menjadi sinetron.
Wanita ini lahir dari keluarga Tionghoa di Jakarta yang akrab dengan bidang pendidikan. Ayahnya Max Timotius Tannos, dulunya pernah menjadi kepala sekolah sebelum akhirnya berwiraswasta. Ibunya, Hennyriawati adalah seorang guru SD di SDK II Penabur Jakarta. Agnes anak bungsu dari dua bersaudara, adalah mantan guru matematika di SMUK I Penabur Jakarta. Kakaknya Temmy Mozes Tannos, juga seorang guru privat. “Menjadi seorang penulis sama saja dengan seorang guru, ia berusaha memperluas wawasan bagi pembacanya, tapi tidak dengan cara menggurui seperti di sekolah.”
Sejak kecil, Agnes sudah menyukai bidang seni dan sastra. Ia sempat aktif menyanyi. “Pernah tampil di TVRI dalam acara pop dan keroncong belasan kali,” ujar penggemar berat film dan bacaan ini. Karena gemar membaca, ia pernah bercita-cita menjadi pengarang novel waktu sekolah dulu, tapi waktu itu novel yang dibuatnya teronggok begitu saja karena masih belum punya komputer.
Baru tahun 2000 ia bisa dengan intens menulis. Waktunya untuk menulis semakin tercurahkan ketika pada tahun 2001 ia berhenti mengajar di SMUK I Penabur Jakarta yang sudah dijalaninya sejak 1996. Novel pertamanya berjudul Jejak Kupu-kupu yang diterbitkan Penerbit Primanata Publishing pada tahun 2003 langsung mendapat sambutan hangat di hati pembaca dan dicetak ulang oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2004. Selanjutnya, bak air terjun, novel-novelnya terus mengalir.
Satu novel ringan bertema remaja, bisa ia selesaikan dalam waktu dua bulan, sedangkan novel yang agak berat dan butuh banyak literatur ia selesaikan dalam waktu enam bulan. Setiap hari ia menulis sekitar empat jam, di saat anak-anaknya sekolah. “Dan malam hari saat mereka sudah tidur,” ujar wanita yang kini hanya menulis dan menjadi ibu rumah tangga ini.
Itu dalam situasi normal, artinya tidak ada sesuatu yang mengharuskan dia segera menyelesaikan novelnya. “Tapi jika ada deadline saya ngebut juga.”
Di sela-sela pekerjaannya sebagai penulis, dunia ajar-mengajar tetap menjadi bagian dari kesehariannya. Setiap hari sabtu ia memberi kursus privat matematika pada anak-anak SMP dan SMA. “Mungkin itulah sebabnya saya dekat dengan dunia remaja, karena banyak bergaul dengan mereka.” Harapannya di masa depan adalah novelnya bisa go internasional, dan semakin banyak orang yang membaca karyanya.
Mustafa Tempo
Mama Yang Menulis


Q: Sebagai seorang penulis yang ibu rumah tangga, bagaimana Anda membagi waktu Anda untuk keluarga?
A: Saya rasa sama seperti ibu bekerja yang lainnya, yang penting ‘kualitas bukan kuantitas’. Maksudnya bila sedang bersama-sama anak-anak atau suami, saya memberikan perhatian sepenuhnya pada mereka. Tapi bila sedang bekerja, saya bilang terus-terang bahwa saya harus menulis saat itu, karena sudah terbiasa mereka mengerti.

Q: Lalu kapan Anda menulis, kapan Anda mengurus anak-anak?
A: Biasanya saya menulis ketika anak-anak saya berangkat sekolah. Lalu ketika mereka pulang, saya sediakan waktu untuk mereka. Ketika mereka les, saya menulis lagi. Lalu kalau memang sedang dikejar deadline, waktu mereka tidur malam, biasanya saya menulis lagi.

Q: Apakah suami mengijinkan Anda sibuk sebagai penulis?
A: Suami saya sangat mendukung pekerjaan saya. Dulu waktu saya masih bekerja sebagai guru ia juga mendukung. Yang penting pekerjaan rumah tangga dan anak-anak tidak terlantar, katanya.

Q: Sebenarnya apa yang membuat Anda berkeinginan menjadi seorang penulis?
A: Dari kecil saya suka membaca, akhirnya setelah dewasa saya coba-coba menulis. Tepatnya lima tahun yang lalu, waktu saya baru berhenti mengajar karena merasa terlalu sibuk. Saat menganggur saya menulis dan ternyata selesailah novel pertama saya Bunga. Saya berikan pada seorang murid les saya untuk dibaca, ia bilang lumayan. Ketika saya buat novel kedua saya yang berjudul Jejak Kupu-kupu, ia bilang ini bagus sekali, kenapa nggak dimasukkan saja ke penerbit? Saya coba datang ke sana. Waktu itu saya bilang diterbitkan tidak usah dibayar juga nggak apa-apa. Mereka menjelaskan bahwa yang penting bagus, soal bayaran itu memang sudah seharusnya. Batas waktunya tiga bulan. Saya pikir tidak bakal diterima. Ternyata di hari terakhir batas waktunya, saya ditelepon. Rasanya senang sekali.

Q: Bagaimana dengan penghasilan sebagai penulis, apakah lumayan besar?
A: Lumayan. Daripada menganggur di rumah, hitung-hitung mengisi kesibukan sambil dapat uang. Soal uang sih relatif. Banyak yang bilang kecil, tapi bagi saya lumayan saja.

Q: Lebih enak mana, bekerja sebagai guru atau sebagai penulis?
A: Sebenarnya dua-duanya enak, tapi dari segi waktu mungkin penulis lebih fleksibel. Dulu saya bekerja dari pagi sampai sore, sorenya memberi les lagi, pulangnya malam, nggak sempat ketemu anak-anak. Sekarang minimal saya bisa bekerja walau anak-anak berisik di belakang kursi saya. Mereka lihat mamanya ada, saya juga bisa melihat anak-anak saya. Tapi semua profesi sama saja, tergantung bagaimana kita menyiasatinya.

Q: Bila anak Anda besar nanti, apakah mau didorong untuk menjadi seorang penulis juga?
A: Ha ha… kebetulan cita-cita saya dulu penyanyi, eh malah jadi guru, lalu berhenti dan menjadi penulis. Sepertinya ini sudah takdir ya. Jadi kalau anak saya mau mengikuti profesi saya yang penulis, atau mau jadi penyanyi atau musisi, atau bidang yang lain, terserah mereka saja. Yang penting senang menjalaninya.

Q: Pertanyaan terakhir, apa pesan Anda untuk para ibu yang bekerja sambil mengurus rumah tangga?
A: Jalani dengan enjoy saja. Yang penting waktu berkualitas, bukan kuantitas. Sedapat mungkin saat bersama dengan anak-anak, perhatikan mereka sepenuhnya. Mereka akan menilai pertemuan yang cuma sesekali itu sangat bermakna dan mereka tunggu-tunggu. Saat bekerja, berikan yang maksimal untuk perusahaan tempat kita bekerja, supaya waktu yang kita pakai untuk bekerja tidak sia-sia. Itu saja.

Q: Oke, terima kasih Agnes, sampai ketemu lain kali.
A: Oh, terima kasih juga ya. Salam buat semuanya.
Majalah Ausindo Australia